Statcounter

Saturday, February 26, 2022

The LandLady & The Wheelchair

 


I know them for years, I mean they are familiar faces but we never talked or have anything going on to even talk. But I know them. Sia tau dorg ni sepasang laki bini, buat bisnes sama2. And they have expanded to a bigger premis. 

Dorang laki bini ni boleh nampak macam orang baik2. Jenis yang beradab, cakap lembut2 dan buat bisnes lurus bendul. We know kan ada chinese yang macam ni. Nda semestinya semuanya cakap kuat or rough or asyik pikir untung. So selepas begitu lama sia tau kewujudan dorang, akhirnya we have urusan. Sia berurusan sama bini dia, logik juga la sebab sia pun perempuan. So I signed tu agreement di bawah nama orang lain. It could be the husband. So logiklah juga kan memang husband yang boss. This lady, as I have expected of her, so soft-spoken, jenis yang senang senyum and tidak banyak songeh. Terkena lagi sama sia yang species lurus bendul jua bab2 macam ni. Sia rasa kalau dia terkena sama yang bengkang bengkok, buli urang take advantage of her. But don't. Jangan lah. Urang baik sama kita, kita baik la juga sama urang. 

So mau dijadikan cerita, baru sia sedar yang sia nda penah nampak tu husband. Sia pernah masuk office dorang pun sia assume ja tu husband ada dalam sana yang sia nda nampak. Until today. Masa sia rush balik, sia ternampak someone sorong wheelchair. To my surprise, it was her. The landlady. And the guy in the wheelchair looked familiar but I didn't look at him betul2. They were going to my direction. She recognized me in the mask, and awal2 lagi dia senyum lebar macam biasa. Sia sempat Hi sama dia and tepuk bahu dia before dia berlalu. Terus laju di pikiran sia, was that the husband ka? Kan kebetulan I never saw him for a while. Cara dia tolak wheelchair tu, penuh dengan kesabaran, kepasrahan dan... u can see tu Obedience di sana. I don't know apa cerita, I might ask or I might not when we see each other again atas urusan kami.

Dalam kepala sia teringat gelagat the husband yang dulunya aktif bergerak, keluar masuk bangunan utk bikin urusan. Dorang dua ni maybe years older ja dari sia, tidak begitu jauh beza. Cuma sia nda sangka sia akan nampak dia di wheelchair dengan usia begitu. Betul lah teda sepa tau apa akan berlaku di masa depan. Dan without making assumptions yang macam2, sia focus on the landlady. Sia rasa kita punya permintaan mencari pasangan hidup ni seribu satu macam. Benda seremeh-remehnya pun kita kira. Mau yang itu, ini, begitu begini. Tapi u know what, bila sia nampak tu landlady surung wheelchair, suddenly something hit me. Kamu buli jamin ka urang yang kamu gila-gilakan sekarang ni akan sanggup surung wheelchair yang kamu naik sekiranya ditakdirkan kamu terpaksa duduk di wheelchair?

Actually maybe berpuluh tahun, the husband would never know how much the wife loves him. Until the point where he can no longer function and move and has to rely on someone to move. Sia jamin dia sudah dapat jawapannya. Yes, dat same lady yang selalu sama2 dia, dia la juga yang sorong wheelchair itu tanpa segan di depan orang. U know what? Nda kisah la apa yang kita mau, but apa yang kita perlu adalah pasangan yang BETUL2 SAYANG bukan dari jasad ja tapi juga soul kita. Yang akan tetap di sebelah kita dan nda akan kasi tinggal kita. Mungkin dulu kau pernah jadi gagah, muda, dan berkemampuan, tapi bila kau bukan lagi macam tu, orang yang tepat sudah memilih untuk sayang kau tanpa syarat. Tiba2 muncul kesedaran yang begitu and merenung balik kehidupan sendiri yang serba kekurangan. 

Sia happy untuk kamu2 yang ada orang begitu di sebelah kamu. Tolong jangan sia-siakan. Tolong jangan lepaskan permata itu untuk sebutir kaca. Untuk yang masih tercari2, yes, yang kita mau adalah orang yang sudah MEMILIH untuk MENYAYANGI kita sampai hujung nyawa.  Tiada tapi, tiada kalau, tiada syarat sama sekali. Kalau kamu jumpa orang ni anggaplah matlamat hidup kamu tercapai. And kalau kamu lah jadi si pasangan setia tu, sia pray yang kamu diberkati dalam setiap hal kehidupan kamu. Amen amen.